Langsung ke konten utama

Essay Penyembuh Luka

LIDAH BUAYA (ALOE VERA) SEBAGAI PENYEMBUH LUKA
Maulida Nurazmi Octavia
Program Studi S1 Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari
maulidanurazmioct20@gmail.com

ABSTRAK
Luka merupakan kasus cedera yang sering dialami oleh setiap manusia. Luka itu sendiri didefinisikan sebagai hilangnya integritas epitelial dari kulit. Kulit berperan sangat penting dalam mengatur keseimbangan air serta elektrolit, termoregulasi, dan berfungsi sebagai barrier terhadap lingkungan luar termasuk mikroorganisme. Saat barrier ini rusak karena berbagai penyebab, maka kulit tidak dapat melaksanakan fungsinya secara adekuat. Oleh karena itu sangat penting untuk mengembalikan integritasnya sesegera mungkin. Penyembuhan luka yang normal merupakan suatu proses kompleks dan dinamis. Proses penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga fase pokok, yaitu hemostasis dan inflamasi, proliferasi, serta maturasi dan remodelling. Penyembuhan luka melibatkan aktivitas jaringan yang terdiri atas sel-sel darah, jenis jaringan, sitokin, dan faktor pertumbuhan yang menyebabkan peningkatan aktivitas seluler. Beberapa faktor gizi diperlukan untuk perbaikan luka dapat meningkatkan penyembuhan waktu dan hasil luka. Proses penyembuhan dapat dibantu dengan pengobatan secara alami yaitu dengan pemberian gel lidah buaya (Aloe vera) secara topikal yang diteliti dapat mempercepat proses penyembuhan luka karena tumbuhan lidah buaya dapat merangsang proliferasi beberapa jenis sel.
Kata Kunci: lidah buaya, luka, gel


PENDAHULUAN
Penyembuhan luka merupakan proses yang dinamis dan kompleks dengan tujuan memulihkan struktur anatomi dan fungsi kulit. Untuk mencapai tujuan tersebut, beragam sistem imunologi dan biologi berpartisipasi dalam cara terkoordinasi, melalui tiga fase yang berbeda, yaitu respons inflamasi (yang terdiri dari hemostasis dan pembengkakan), fase proliferatif (terdiri dari sintesis protein dan kontraksi luka) dan fase pemodelan ulang. Penyembuhan luka dapat terganggu oleh beberapa hal, antara lain disebabkan oleh nekrosis, hipoksia jaringan, eksudat dan kelebihan sitokin inflamasi (Mandiri, 2013).
Gangguan pada kulit yang sering dihadapi dokter adalah luka. Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang menyebabkan gangguan kontinuitas, sehingga terjadi pemisahan struktur jaringan yang semula normal. Insidennya sendiri cukup sering terjadi pada aktivitas rumah tangga sehari-hari seperti tertusuk, ataupun tersayat pisau, yang seluruhnya merupakan bentuk luka terbuka. Penyembuhan luka adalah proses perbaikan alami terhadap cedera jaringan dengan melibatkan mediator-mediator inflamasi, sel darah, matriks ekstraseluler, dan parenkim sel. Prosesnya terdiri dari tiga fase; hemostasis dan inflamasi, proliferasi, serta maturasi dan remodelling. Semua jenis trauma yang menyebabkan cedera vaskular akan menginisiasi respon seluler untuk memulai fase hemostasis. Fase ini berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima. Kontribusi utamanya adalah vaso konstriksi, agregasi platelet dan deposisi fibrin sehingga terbentuk formasi bekuan darah. Sementara itu terjadi reaksi inflamasi berupa eritem, edem, nyeri, dan panas dengan tujuan membawa sel-sel inflamasi ke daerah luka (Tricaesario dan Widayati, 2016).
Kulit memainkan peran penting dalam perlindungan dari lingkungan internal tubuh dan merupakan organ terbesar di tubuh manusia sehingga bila terjadi kerusakan serius pada organ ini dapat menyebabkan beberapa masalah dalam kontinuitasnya. Kulit terdiri dari dua lapisan epidermis dan dermis yang berada di atas lemak subkutan. Epidermis terutama terdiri atas lapisan keratinosit dan tersebar luas pula beberapa jenis sel termasuk melanosit dan sel Langerhans. Epidermis dipisahkan dengan dermis oleh membran basal. Dermis terdiri dari sel-sel papiler dan retikuler yang terdiri dari matriks ekstraselular atau substansi basal yang terdiri dari kolagen, jaringan fibrosa, elastin, dan glikosaminoglikan (Seyyed, 2015).
Luka merupakan kasus cedera yang sering dialami oleh setiap manusia. Luka didefinisikan sebagai hilangnya integritas epitelial dari kulit. Organ ini berperan sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain dengan mengatur keseimbangan air serta elektrolit, termoregulasi, dan berfungsi sebagai barrier terhadap lingkungan luar termasuk mikroorganisme. Saat barrier ini rusak karena berbagai penyebab, seperti ulkus, luka bakar, trauma, atau neoplasma, maka kulit tidak dapat melaksanakan fungsinya secara adekuat. Oleh karena itu sangat penting untuk mengembalikan integritasnya sesegera mungkin (Nur Atik, 2009). 
Lidah buaya termasuk dalam famili Lily (Liliaceae). Tanaman ini telah dikenal sebagai tanaman penyembuh. Lidah buaya telah digunakan untuk tujuan medis tradisional di beberapa budaya selama ribuan tahun. 5,6,7 Secara in vitro, ekstrak atau komponen dari lidah buaya merangsang proliferasi beberapa jenis sel. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pengobatan dengan gel lidah buaya murni dan ekstraknya membuat penyembuhan luka lebih cepat (Wiksman, 2007).
ISI
Penyembuhan luka melibatkan serangkaian kompleks interaksi antara jenis sel yang berbeda, yaitu mediator sitokin dan matriks ekstraselular. Fase penyembuhan luka yang normal termasuk hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodelling. Setiap fase penyembuhan luka berbeda, meskipun proses penyembuhan luka kontinyu, dengan setiap fase tumpang tindih berikutnya. Setelah terjadi luka pada kulit, terjadi respon inflamasi dan peningkatan produksi kolagen oleh sel-sel di area kulit yang diikuti dengan penataan ulang jaringan epitel. Mekanisme tersebut merupakan proses fisiologis dan banyak faktor yang berperan di dalamnya, termasuk faktor pertumbuhan dan sitokin dalam memperbaikinya. Penyembuhan luka ditujukan untuk menyembuhkan luka dalam waktu sesingkat mungkin, dengan rasa sakit, ketidaknyamanan, dan jaringan parut yang minimal pada pasien (Douglas, 2003).
Terdapat empat fase penyembuhan luka, yaitu sebagai berikut: 1) Cedera jaringan menginisiasi respon yang pertama, yaitu membersihkan luka jaringan yang melemah dan benda asing, mengatur tahap penyembuhan, dan regenerasi jaringan. Respon vaskular awal melibatkan vasokonstriksi dan hemostasis periode singkat dan sementara. Selama 5- 10 menit periode vasokonstriksi yang intens diikuti vasodilatasi aktif disertai dengan peningkatan permeabilitas kapiler. Agregasi trombosit dalam bekuan fibrin mensekresi berbagai faktor pertumbuhan dan sitokin yang mengatur tahap untuk mengarah ke perbaikan jaringan. 2) Tahap kedua dari penyembuhan luka, yaitu fase inflamasi yang mengakibatkan eritema, pembengkakan, dan hangat, dan sering timbul rasa sakit. Respon inflamasi meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, yang mengakibatkan migrasi neutrofil dan monosit menuju jaringan sekitarnya. Neutrofil menelan debris dan mikroorganisme, menjadi pertahanan pertama terhadap infeksi. Migrasi neutrofil berhenti setelah beberapa hari pertama pascacedera jika lukanya tidak terkontaminasi. Jika fase inflamasi akut ini berlanjut karena luka hipoksia, infeksi, kekurangan gizi, penggunaan obat, atau faktor lainnya yang berhubungan dengan respon imun pasien, dapat mempengaruhi fase inflamasi menjadi lambat. Pada fase inflamasi yang terlambat, monosit dikonversi menjadi makrofag dalam jaringan, yang memakan dan membunuh bakteri patogen, membersihkan debris jaringan, dan menghancurkan neutrofil yang tersisa. Makrofag memulai transisi dari peradangan luka menjadi perbaikan luka dengan mengeluarkan berbagai kemotaksis dan faktor pertumbuhan yang merangsang migrasi sel, proliferasi, dan pembentukan matriks jaringan. 3) Fase proliferasi berikutnya didominasi oleh pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi. Durasinya tergantung pada ukuran luka. Kemotaktik dan faktor pertumbuhan dilepaskan dari trombosit dan makrofag merangsang migrasi dan aktivasi luka fibroblas yang menghasilkan berbagai zat penting untuk perbaikan luka, termasuk glikosaminoglikan (terutama hyaluronic acid, kondroitin-4-sulfat, sulfat dermatan, dan sulfat heparan) dan kolagen. Pertumbuhan kapiler baru harus mengiringi fibroblas menuju luka untuk menyediakan kebutuhan metabolik. Sintesis kolagen dan cross-linkage bertanggung jawab untuk integritas vaskular dan kekuatan kapiler baru. Crosslinkage yang salah dari serat kolagen telah bertanggung jawab untuk perdarahan pascaoperasi spesifik pada pasien dengan parameter koagulasi yang normal. Pada awal fase proliferasi, aktivitas fibroblas terbatas pada replikasi dan migrasi sel. Sekitar hari ketiga setelah terluka pertumbuhan massa sel fibroblas mulai melakukan sintesis dan sekresi sejumlah kolagen. Jumlah kolagen meningkat terusmenerus selama kurang lebih tiga minggu. Jumlah kolagen dikeluarkan selama periode ini menentukan ketegangan luka. 4) Tahap akhir dari penyembuhan luka adalah remodelling luka, termasuk reorganisasi serat kolagen baru, membentuk struktur kisi yang lebih terorganisir yang progresif secara terusmenerus meningkatkan ketegangan luka. Proses remodelling berlanjut hingga dua tahun, mencapai 40-70 persen dari kekuatan jaringan yang tidak rusak pada empat minggu (Douglas, 2003).
Lidah buaya merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Liliaceae yang tumbuh dengan mudah di daerah panas dan gersang. Jaringan lendir yang ada di bagian tengah daun pada tanaman ini atau yang disebut juga gel lidah buaya digunakan untuk berbagai kosmetik dan aplikasi medis. Pada bagian tepi daun menghasilkan lateks pahit dan berwarna kuning. Lidah buaya adalah tanaman herbal dengan daun yang tebal, lezat, dan panjang. Batas daunnya sedikit melengkung dengan duri. Bunganya terletak dalam bentuk berkelompok di akhir sumbu batang dengan warna hijau atau kuning. Lidah buaya endemik di daerah Afrika dan juga disebut lili gurun (Hesperocallis) (Akinyele, 2007).
Mesir menggunakan tanaman lidah buaya untuk pengobatan luka, luka bakar, dan infeksi untuk pertama kalinya. Setelahnya, Yunani, Spanyol, dan Afrika bangsa menggunakan lidah buaya dengan berbagai teknik untuk beberapa tujuan. Menurut pengobatan klasik di Iran, ekstrak lidah buaya yang digunakan untuk tujuan pengobatan (Barcroft A, 2003).
Tanaman lidah buaya terdiri dari turunan hidroksil antrasena termasuk aloin A dan B2 dengan jumlah 25-40% dari senyawa chromone dan turunannya seperti resin aloe A, B2, dan C. Senyawa penting lainnya pada tanaman lidah buaya meliputi beberapa gula seperti glukosa, manosa, dan selulosa dan berbagai enzim seperti oksidase, amilase, dan katalase dan juga vitamin yang terdiri dari B1, B2, B6, C, E, dan asam folat, dan mineral seperti kalsium, natrium, magnesium, seng, tembaga, dan krom. Lendir lidah buaya juga terdiri dari beberapa glikoprotein, yang mencegah inflasi rasa sakit dan mempercepat perbaikan. Demikian juga, lidah buaya terdiri polisakarida, yang merangsang penyembuhan luka dan pertumbuhan kulit. Lendir dari tanaman ini dapat digunakan untuk pengobatan internal dan eksternal luka. Lendir lidah buaya mencakup beberapa senyawa seperti vitamin E dan vitamin C dan beberapa asam amino, yang dapat memainkan peran penting dalam percepatan penyembuhan luka sedemikian rupa bahwa percobaan telah menunjukkan bahwa vitamin C dapat berperan dalam peningkatan produksi kolagen dan pencegahan dari sintesis untaian DNA, serta vitamin E sebagai antioksidan yang kuat dalam penyembuhan luka. Lendir lidah buaya memiliki sistem enzimatik antioksidan seperti glutathione peroxidase dan superoksida dismutase, yang mempercepat penyembuhan luka dengan netralisasi efek dari radikal bebas yang dihasilkan di situs luka dan dengan properti anti-inflamasi (Seyyed, 2015).
Merujuk kepada beberapa aktivitas farmakologi, dikaitkan dengan tanaman lidah buaya termasuk antiinflamasi, antiarthritis, antibakteri, antijamur, dan efek hipoglikemik. Karena sifat anti bakteri dan anti jamur dari lidah buaya, tanaman ini mencegah terhadap timbulnya ketombe di kepala. Tanaman lidah buaya juga bermanfaat untuk mengontrol infeksi jamur seperti pada penyakit alopecia. Efek lain dari lidah buaya yaitu pada bagian gelnya dapat menyembuhkan luka dan trauma kulit lainnya. Demikian pula untuk mengurangi rasa sakit pada lokasi trauma terlihat dengan penggunaan obat ini. Efek kelembaban dari lidah buaya telah dibuktikan dalam bentuk produk topikal dengan baik (Wynn, 2005).
Komponen penyembuh berhubungan dengan senyawa yang disebut glukomanan, yang diperkaya dengan polisakarida. Glukomanan mempengaruhi faktor pertumbuhan fibroblas dan merangsang aktivitas dan proliferasi sel dan meningkatkan produksi dan sekresi kolagen. Lendir lidah buaya tidak hanya meningkatkan jumlah kolagen di situs luka, tetapi juga meningkatkan koneksi transversal antar ikatan sehingga sebagai hasilnya mempercepat perbaikan luka (Boudreau, 2006).
Alasan ilmiah untuk penggunaan terapi tradisional dalam penyembuhan luka menunjukkan efek yang menguntungkan. Namun, upaya multidisiplin diperlukan untuk membuktikan keamanan, menyelidiki efek samping, dan mengembangkan uji standar terkontrol. Tren saat ini yaitu mengarah ke pengembangan pengobatan perawatan luka yang inovatif, yaitu menggabungkan penggunaan bahan tradisional dan produk modern, seperti nanofibers yang mengandung nanopartikel perak, lidah buaya yang dimuat ke hidrogel alginat, dan hidrogel yang mengandung madu (Pereira, 2016).
Lidah buaya benar-benar dapat membantu menyembuhkan luka. Hal ini dikarenakan lidah buaya meningkatkan produksi keratinosit yang cukup kuat dan menambah rangsangan migrasi sel kulit. Keratinosit merupakan sel yang menyusun epidermis dan berfungsi untuk mencegah kelembapan serta senyawa kimia asing yang keluar masuk tubuh. Selain itu, lidah buaya juga mengandung senyawa glukomanan. Senyawa ini bisa mendorong pertumbuhan regenerasi sel dan produksi kolagen, yaitu protein yang dapat mempercepat penyembuhan luka. Ditambah lagi ,enurut penelitian dari jurnal Wounds, lidah buaya memiliki efek antiradang, antivirus, dan antiseptik yang dipercaya dapat cepat menyembuhkan luka. Dengan meningkatnya produksi keratinosit kulit, maka luka semakin cepat menutup dan pulih. Bahkan, rasa sakit dan peradangan pada luka Anda pun berkurang berkat penggunaan lidah buaya. Gel lidah buaya biasanya digunakan untuk mengobati luka yang terbuka agar terlindungi dari paparan senyawa asing dari lingkungan luar. Cara menggunakannya pun cukup mudah. Apabila Anda mengalami luka karena terbakar oleh sinar matahari, oleskan lidah buaya beberapa kali dalam sehari pada daerah tersebut. Namun, ketika luka bakar yang Anda alami termasuk parah, segera konsultasikan dengan dokter Anda sebelum menggunakan lidah buaya. 
Mengutip The Advance, Pusat Medis Maryland University meneliti kandungan lidah buaya yang memiliki 99 persen air dan dua bahan kimia kuat yang meningkatkan penyembuhan luka yakni polisakarida dan glikoprotein. Polisakarida telah dikenal dapat meningkatkan pergerakan sel, yang mengarah pada pertumbuhan kembali jaringan yang lebih cepat dan lebih efisien. Glikoprotein tidak hanya sebagai pereda rasa sakit tetapi dapat membantu mengendalikan respons peradangan. Bahkan ada bukti bahwa kedua senyawa ini bersama-sama dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan itu lebih baik untuk tubuh secara keseluruhan. "Lidah buaya mengandung senyawa glukomanan, yang mendorong regenerasi sel dan produksi kolagen. Kolagen adalah protein esensial yang meningkatkan penyembuhan luka," demikian dikutip situs tersebut. Pada 2015, sekelompok peneliti melakukan pemeriksaan efek lidah buaya pada luka kulit yang diterbitkan pada jurnal BioMed Research International, tim menemukan bahwa lidah buaya cukup efektif dalam menangani jenis luka. Bahan kimia lain dalam lidah buaya juga dapat menumbuhkan sekresi faktor pertumbuhan seperti insulin tubuh, yang sebagian besar bertanggung jawab untuk pertumbuhan kembali pembuluh darah.
DAFTAR PUSTAKA
Mandiri, T.K. 2013. Pedoman Bertanam Lidah Buaya. Bandung: CV. Nuansa Aulia.
Tricaesario, C, Widayati R.I., 2016. Efektifitas Krim Almond Oil 4% Terhadap Tingkat Kelembaban Kulit. Jurnal Kedokteran Diponegoro.
Seyyed AH, Seyyed AM, and Saied AK. The review on properties of aloe vera in healing of cutaneous wounds. India: Hindawi Publishing Corporation; 2015.
 Nur Atik, Januarsih Iwan A. R. Perbedaan efek pemberian topikal gel lidah buaya (Aloe vera l.) dengan solusio povidone iodine terhadap penyembuhan luka sayat pada kulit mencit (Mus musculus). Bandung: Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran; 2009.
Wiksman LB, Solomonik I, Spira R, Tennenbaum T. Novel insights into wound healing Sequence of events. Toxicologic Pathol. 2007; 35(6):767-79.
Douglas MK, Alan LM. Nutritional support for wound healing. Alternative Medicine Review. 2003; 8(4):1-5.
Boudreau MD, Beland FA. An evaluation of the biological and toxicological properties of aloe barbadensis (miller), aloe vera. Journal of Environmental Science and Health. 2006; 24(1):103–54.
Akinyele BO, Odiyi AC. Comparative study of vegetative morphology and the existing taxonomic status of aloe vera L. Journal of Plant Sciences. 2007; 2(5):558–63.
Barcroft A, Myskja A, Reynolds T. Aloe vera: nature’s silent healer. New York: BAAM; 2003.
Wynn RL. Aloe vera gel: update for dentistry. General Dentistry. 2005; 53(1):6–9.
Pereira RF, Bártolo PJ. Traditional therapies for skin wound healing. Adv Wound Care. 2016; 5(5):208-29.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lidah Buaya (Aloe vera)

Hallo guys! Selamat datang di blog pertama ku😊 Sebelumnya terimakasih sudah mampir di blog ku, untuk pertama kalinya aku bakalan nulis artikel tentang Lidah buaya (Aloe vera). Nah kalian pasti tidah asing lagi dengan tanaman satu ini, yang sering kita kenal dengan nama ilmiah nya Aloe vera. Bagian yang biasanya kita ambil adalah lendirnya (gel), kaya ingus hihi tapi manfaat nya sangat banyak loh..  Gambar Lidah Buaya ( Aloe vera ) Sumber:  https://images.app.goo.gl/u2Km6ENtrFLYAABL8   Lidah buaya atau aloe vera merupakan tanaman yang dikenal untuk menyuburkan rambut, menyembuhkan luka dan perawatan kulit. Tanaman ini memiliki kandungan zat-zat seperti enzim, asam amino, mineral, vitamin, polisakarida dan komponen-komponen lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi pada zaman sekarang ini, aloe vera dikembangkan sebagai bahan baku dalam industry farmasi dan kosmetik serta sebagai makanan dan minuman kesehatan. Banyak kandunga...